Wednesday, August 29, 2018

Bacaan Doa, Niat dan Tata Cara Sholat Dhuha (Lengkap)

Sholat dhuha adalah salah satu sholat sunnah istimewa selain sholat tahajud yang memiliki banyak keutamaan. Hadits-hadits terdahulu dan juga yang semisalnya menjelaskan bahwa shalat dhuha dilakukan pada waktu Dhuha (pagi hari) merupakan suatu hal yang baik lagi disukai.

Sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan setelah terbit matahari sampai menjelang dzuhur.

Waktu sholat dhuha di mulai sejak terbitnya matahari hingga condong ke barat. Artinya, di Indonesia, waktu shalat dhuha terbentang selama beberapa jam sejak 20 menit setelah matahari terbit hingga 15 menit sebelum masuk waktu dhuhur.

tata cara sholat dhuha

Waktu yang lebih utama adalah seperempat siang. Di Arab, waktu itu ditandai dengan padang pasir terasa panas dan anak unta beranjak. Sebagaimana sabda Rasulullah:

waktu sholat dhuha

Bahwasanya Zaid bin Arqam melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha (di awal pagi). Dia berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat orang-orang awwabin (taat; kembali pada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan" (HR. Muslim)

Keutamaan Shalat Dhuha


Mengenai keutamaan shalat Dhuha, telah diriwayatkan beberapa hadits yang diantaranya dapat saya sebutkan sebagai berikut:

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda “Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahtil (Laa Ilaaha Illallaah) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemunkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa disetarakan ganjarannya dengan dua rakaat shalat Dhuha”. Diriwayatkan oleh Muslim.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Tahajud Secara Lengkap

Hadits Abud Darda dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha mulia, dimana Allah berfirman. “Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku mencukupimu di akhir siang” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, dia berkata : "Tidak ada yang memelihara shalat Dhuha kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaab)”. Dan dia mengatakan, “Dan ia merupakan shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaabin)”. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim.

Selain itu, di dalam hadits-hadits tersebut juga terkandung dalil yang menunjukkan disyariatkannya kaum muslimin untuk senantiasa mengerjakannya dan tidak ada riwayat yang menunjukkan diwajibkannya shalat dhuha.

Niat Shalat dhuha


Semua ulama berpendapat bahwa tempatnya niat adalah di hati, jadi tidak perlu di ucapkan/ dilafalkan. Dalam madzhab Syafi’i, lafal niat sholat dhuha sebagai berikut:

أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنَ لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatadh dhuhaa rok’ataini lillaahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Tata Cara Shalat Dhuha


Shalat dhuha minimal di kerjakan sebanyak dua rakaat salam. Adapun jumlah rakaatnya, minimal dua rakaat. Rasulullah kadang mengerjakan sholat dhuha empat rakaat, kadang delapan rakaat.

rakaat sholat dhuha

Dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat. Pada setiap dua rakaat, beliau mengucap salam (HR. Abu Dawud; shahih)

Tata caranya sama dengan sholat sunnah dua rakaat pada umumnya, yaitu:


  1. Niat
  2. Takbiratul ikram, lebih baik jika diikuti dengan doa iftitah
  3. Membaca surat Al Fatihah
  4. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Bisa surat Asy Syams atau lainnya.
  5. Ruku’ dengan tuma’ninah
  6. I’tidal dengan tuma’ninah
  7. Sujud dengan tuma’ninah
  8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah
  9. Sujud kedua dengan tuma’ninah
  10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua
  11. Membaca surat Al Fatihah
  12. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Bisa surat Adh Dhuha atau lainnya.
  13. Ruku’ dengan tuma’ninah
  14. I’tidal dengan tuma’ninah
  15. Sujud dengan tuma’ninah
  16. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah
  17. Sujud kedua dengan tuma’ninah
  18. Tahiyat akhir dengan tuma’ninah
  19. Salam


Doa Shalat Dhuha


Tidak terdapat doa khusus seusai sholat dhuha yang di ajarkan Rasulullah saw, bahkan kitab-kitab Fiqih, para ulama sama sekali tidak mencantumkan doa sholat dhuha. Misalnya dalam Fiqih Sunnah, Fiqih Islam wa Adillatuhu, Fikih Empat Madzhab maupun Fiqih Manhaji mazhab Imam Syafi’i. Sehingga, kita boleh berdoa secara umum dengan doa apapun yang baik.

Baca Juga: Hukum dan Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Namun ada salah satu doa yang sangat popular yaitu:

doa sholat dhuha

Artinya:  “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalih”.

Alhamdulillah pembahasan tentang shalat dhuha sudah selesai. Semoga apa yang telah di bahas di atas dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf apa bila ada salah dan khilaf pada pembahasan ini. Sesungguhnya segala kebenaran datangnya dari Allah dan segala kesalahan dan khilaf datangnya murni dari dalam diri saya pribadi.
Read More

Tuesday, August 28, 2018

Bacaan Doa, Niat dan Tata Cara Sholat Tahajud Secara Lengkap

Suatu keistimewaan yang lebih bagi mereka yang gemar melaksanakan dua sholat muakkad yaitu sholat tahajud dan sholat dhuha.

Hukum dan pangkatnya meskipun di kategorikan sunnah, namun cara melaksanakan kedua sholat tersebut tidaklah mudah, harus membiasakan diri terlebih dahulu akan proses dan waktu dalam mengerjakannya. Maka dari itu tidaklah heran dalam pengerjaannya terdapat keistimewaan dan keutamaan yang lebih.

sholat tahajud


Pengertian Sholat Tahajud


Dalam bahasa arab, tahajud memiliki kata dasar “hajada” yang berarti “tidur”, yang juga berarti “sholat dimalam hari”. Sebutan untuk orang yang melaksanakan sholat malam yaitu “haaajid”. Maka bertahajud arinya melakukan sholat sunnah di malam hari setelah tidur. Dari makna tersebut sholat tahajud memsyaratkan untuk tidur terlebih dahulu.

Baca Juga: Hukum dan Keutamaan Sholat Berjamaah

Kalau belum tidur tidak bisa disebut sholat tahajud melainkan sholat qiyamullail. Sholat sunnah tahajud ini merupakan salah satu sunnah terpenting yang dilakukan Rasulullah saw untuk di ikuti umatnya.

Keutamaan Sholat Tahajud


Ayat-ayat tentang keutamaan sholat malam dan anjurannya.

Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk melakukan shalat malam. Antara lain adalah:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ

Artinnya: “Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu….” [Al-Israa’/17: 79]

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

Artinya: “Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [Al-Insaan/76: 25-26].

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Artinya: “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.” [Qaaf/50: 40].

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ

Artinya: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada be-berapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” [Ath-Thuur/52: 48-49]

Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memerintahkan kepada beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai melakukan shalat wajib agar melakukan shalat malam, hal itu sebagaimana terdapat pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mu-lah hendaknya kamu berharap.” [Asy-Syarh/94 : 7-8]

Baca Juga: Tata Cara Sholat Dhuha Secara Lengkap

Dari keterangan dalil tersebut menunjukkan bahwa begitu istimewanya shalat tahajud dibandingkan dengan sholat lainnya. Karena dalam hal tersebut kualitas keimanan hamba ditunjukkan.

Waktu Pelaksanaan Sholat Tahajud


Beberapa hal penting yang harus di pahami secara khusus tentang tata cara sholat tahajud. Yang pertama waktu, dalam pelaksanaannya di bagi menjadi tiga waktu, diantaranya:


  • 1/3 malam pertama berkisar antara pukul 19.00 hingga 22.00 wib, ini merupakan waktu yang utama.
  • 2/3 pertama malam berkisar antara pukul 22.00 hingga 01.00 wib, ini merupakan waktu yang lebih utama.
  • 1/3 terakhir malam berkisar antara pukul 01.00 hingga menjelang sholat shubuh, ini merupakan waktu yang paling utama untuk mengerjakan sholat tahajud.


Jumlah rakaat minimal yang bisa dilakukan dalam sholat Tahajud adalah dua rakaat dua kali salam sedangkan untuk batas maksimalnya bisa disesuaikan kemampuan masing-masing.

Niat Sholat Tahajud


Yang kedua, niat dan sholat tahajud. Sebelum melaksanakan sholat, anda harus memiliki niat yang ikhlas. Ibadah anda ditujukan hanya untuk Allah azza wa jalla. Sebenarnya niat adalah amalan hati tidak ada lafal tertentu yang harus dihafal dan diucapkan. Niatnya sebagai berikut:

Niat sholat tahajud

Doa Sholat Tahajud



Arti Doa Sholat Tahajud:
“Ya Allah, Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar, Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itu benar(ada). Ya Allah, Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dengan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan, dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. Tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Tata Cara Sholat Tahajud


1. Tata Cara Sholat Tahajud di Rakaat Pertama.

  • Membaca Niat Sholat Tahajud
  • Takbiratul Ikhram dg mengucapkan Takbir ( Allahu Akbar)
  • Membaca Doa Iftitah
  • Membaca Surat Al Fatihah
  • Membaca Suratan Pendek atau Panjang Al Qur’an
  • Gerakan Sholat Ruku dan Doa nya
  • Gerakan Sholat I’tidal dan Doanya
  • Gerakan Sholat Sujud Pertama dan Doanya
  • Gerakan Sholat Duduk diantara 2 Sujud dan Doanya
  • Gerakan Sholat Sujud Kedua dan Doanya
  • Berdiri kembali untuk Rakaat Kedua Sholat Tahajud

2. Tata Cara Sholat Tahajud di Rakaat Kedua

  • Membaca Surat Al Fatihah
  • Membaca Suratan Pendek atau Panjang Al Qur’an
  • Gerakan Sholat Ruku dan Doa nya
  • Gerakan Sholat I’tidal dan Doanya
  • Gerakan Sholat Sujud Pertama dan Doanya
  • Gerakan Sholat Duduk diantara 2 Sujud dan Doanya
  • Gerakan Sholat Sujud Kedua dan Doanya
  • Gerakan Sholat Tahiyat Akhir dan membaca doanya
  • Gerakan Salam


Setelah Gerakan Sholat Salam, maka selesai lah Sholat Sunnah Tahajud 2 Rakaat yang kalian kerjakan. Dan sangat disunnahkan sekali bagi umat muslim muslimah untuk membaca dzikir setelah sholat tahajud dan membaca doa setelah sholat tahajud, karena hal tersebut telah dianjurkan dan telah dijelaskan didalam Al Qur’an.

Baca Juga: Ciri Ciri Imam Mahdi

Setiap sesudah melaksanakan sholat, baik itu sholat wajib 5 waktu ataupun sholat sunnah seperti sholat dhuha dan sholat tahajud. Tidak lengkap tanpa membaca dzikir seusai sholat, dengan membaca dzikir kita memuji Allah azza wa jalla yang memberikan kita berbagai nikmat. Setelah sholat tahajud nabi shallallahu alaihi wasallam berdzikir berikut ini.

Bacaan Dzikir Sesudah Sholat Tahajud


Adapun Bacaan Dzikir Sesudah Sholat Tahajud yang bisa kalian bacakan dan amalkan, antara lain :


  1. Membaca Dzikir Istighfar
  2. Membaca Dzikir Tasbih (Subhanallah)
  3. Membaca Dzikir Tahmid ( Alhamdulillah)
  4. Membaca Dzikir Takbir (Allahu Akbar)
  5. Membaca Dzikir Laa ilaaha illallah
  6. Membaca Dzikir Sholawat Nabi Muhammad SAW


Alhamdulillah pembahasan tentang sholat tahajud sudah selesai. Semoga apa yang telah di sampaikan di atas dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf jika ada khilaf dan salah dalam pembahasan kali ini. Sesungguhnya segala kebenaran datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya dari dalam diri saya pribadi.
Read More

Wednesday, August 15, 2018

Ciri Ciri Imam Mahdi Lengkap Sesuai Hadits

Imam Mahdi adalah seseorang yang istimewa. Bahkan dari beberapa ribu tahun yang lalu, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam sudah memberi tahukan tentang kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman, seperti apa ciri-ciri fisiknya dan apa saja yang akan beliau kerjakan ketika nanti memimpin umat di bumi ini.

Imam Mahdi juga adalah sosok yang sangat di tunggu-tunggu kedatangannya pada akhir zaman oleh sebagian kaum muslimin.

Dengan hadits yang sudah jelas, tapi masih saja ada beberapa orang yang mengaku bahwa dirinya adalah Imam Mahdi dan ada saja orang yang mempercayainya.

Inilah pentingnya kita mempunyai ilmu, agar kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dengan ilmu pula kita tidak akan mudah terhasut oleh hal-hal yang tidak ada dasarnya.

Untuk itu, mari kita sama-sama belajar tentang ciri ciri Imam Mahdi agar tidak terjadi lagi penipuan dan kebohongan di sekitar kita tentang Imam Mahdi.

Ciri Ciri Imam Mahdi

Sudah banyak hadits yang menjelaskan tentang munculnya Imam Mahdi di akhir zaman nanti. Salah satu ulama ahli hadits di Madinah yaitu Syeikh Abdul Muhsin Al-'Abbad pernah melakukan penelitian terkait hadits-hadits yang menjelaskan tetang Imam Mahdi.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Tahajud Lengkap

Dari penelitian tersebut, beliau berhasil menyimpulkan bahwa setidaknya ada 26 orang sahabat Nabi yang pernah meriwayatkan hadits tentang Imam Mahdi dan ada 36 kitab hadits yang menuliskan hadits tentang Imam Mahdi.

Diantara kitab-kitab tersebut adalah


  1. Sunan An-Nasa'i
  2. Sunan Abu Dawud
  3. Sunan Tirmidzi
  4. Sunan Ibnu Majah


Sehingga bebrapa ulama mempunyai kesimpulan bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang Imam Mahdi adalah hadits yang derajatnya telah sampai mutawatir ma'nawi.

Baca Juga: Pengertian Afwan Secara Bahasa dan Istilah

Adapun beberapa hadits yang menjelaskan tentang Imam Mahdi adalah sebagai berikut

1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

يخرج في آخر أمتي المهدي ، يسقيه الله الغيث ، وتخرج الأرض نباتها ، ويعطي المال صحاحا، وتكثر الماشية ،وتعظم الأمة ، يعيش سبعا ، أو ثمانيا ، يعني حججا

Artinya: “Pada akhir umatku akan keluar Al-Mahdi. Allah menurunkan hujan kepadanya, bumi menumbuhkan tanamannya, harta dibagi-bagikan, banyaknya binatang ternak dan umat ini menjadi mulia. Dia akan hidup selama tujuh atau delapan tahun; yaitu tujuh atau delapan musim haji.” (HR. Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi)

2. Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

المهدي من عترتي من ولد فاطمة

Artinya: “Mahdi muncul dari anak keturunanku, melalui jalur keturunan Fathimah.” (HR. Abu Dawud)

لا تنقضي الدنيا حتى يملك العرب رجل من أهل بيتي يواطئ اسمه اسمي

Artinya: “Dunia ini tak akan berakhir sampai jazirah Arab dikuasai oleh seorang dari ahli baitku. Namanya menyamai namaku.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

3. Dalam hadits riwayat Abu Dawud

يواطئ اسمه اسمي واسم أبيه اسم أبي

Artinya: “Namanya sama dengan namaku, demikian pula nama ayahnya sama dengan ayahku.”

Dari beberapa hadits yang telah disebutkan di atas, bisa di ambil kesimpulan

1. Munculnya Imam Mahdi adalah salah satu dari tanda kiamat sudah dekat

2. Imam Mahdi akan menjadi seorang Khilafah yang memimpin umat di muka bumi ini selama 7 tahun atau 8 musim haji. Saat Imam Mahdi menjadi pemimpin, seluruh bumi ini akan mengalami kesejahteraan dan keadilan

3. Imam Mahdi memiliki nama yang sama dengan nama Rasulullah serta memiliki nama ayah yang sama dengan nama ayah Rasulullah.

4. Imam Mahdi memiliki garis keturunan Rasulullah dari putrinya yaitu Fatimah.

5. Imam Mahdi memiliki ciri fisik berupa hidung yang mancung dan dahi yang lebar.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

المهدي مني أجلى الجبهة أقنى الأنف يملأ الأرض قسطاً وعدلاً كما مُلئت جوراً وظلماً يملك سبع سنين

Artinya: “Al-Mahdi berasal dari keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan, setelah sebelumnya penuh dengan kekejaman dan kezaliman. Dia akan menguasai dunia ini selama tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)

6. Imam Mahdi akan menjadi Imam Shalat yang di makmumi oleh Nabi Isa 'alaihissalam

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

منا الذي يصلي عيسى ابن مريم خلفه

Artinya: “Dari keturunanku nanti akan ada yang menjadi Imam shalat untuk Isa bin Maryam (yakni Imam Mahdi).” (HR. Abu Nu’aim, dinilai shahih oleh Syaikh Albani)

Wallahua'lam bis shawab

Semoga apa yang ada pada artikel ini dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf apa bila banyak kekurangan, khilaf dan salah pada pembahasan kali ini. Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya murni dari dalam diri saya pribadi.
Read More

Tuesday, August 14, 2018

Pengertian Afwan Secara Bahasa dan Istilah

Saya yakin Anda sudah tidak asing lagi dengan kata Afwan. Kita sering mendengarnya baik secara lisan maupun tulisan.

Biasanya kata afwan di gunakan ketika seseorang melakukan kesalahan dan kekeliruan baik sengaja atau pun tidak.

Saya sendiri sering mendengar dan membaca tulisan seseorang di grup chating whatsapp seperti ini

"Afwan baru hadir"
"Afwan tadi lagi ada urusan"
"Afwan ketinggalan"

dan lain sebagainya.

Saya senang, kosa kata bahasa Arab makin sering digunakan di Indonesia. Walaupun sebenarnya saya sendiri tidak begitu paham dengan bahasa Arab.

Secara umum mungkin kita sudah tahu bahwa afwan itu artinya adalah maaf, saya pun begitu.

Hingga tanpa sengaja saya membaca sebuah tulisan yang akhirnya saya tuliskan pada artikel ini.

afwan

Pada tulisan itu saya membaca dan mendapatkan info bahwa kata afwan bukan hanya berarti maaf, namun ada arti lain yang mesti kita ketahui juga agar segala kata dan maksud dari yang kita ucapkan itu bisa kita pahami dengan benar dan di tempatkan sesuai dengan tujuannya.

Saya tuliskan di sini karena meurut saya ini penting untuk menambah pengetahuan kita lebih dalam lagi tentang bahasa Arab. Jadi tidak hanya sedekar tau sedikit tapi juga harus tau banyak.

Pengertian Afwan Secara Bahasa


Afwan (عفوا) atau al afwu (العفو) merupakan mashdar dari fi’il ‘afaa (عفا) –  ya’fu (يعفو)

Dalam Lisanul Arab (15/72) disebutkan,

والعَفْوُ هو التجاوز عن الذنب وترك العقاب عليه

Al afwu berarti memaafkan atas kesalahan (dosa) dan membebaskan hukuman atasnya.

Baca Juga: Hukum dan Keutamaan Shalat Berjamaah

Al Khaliil pernah berkata,

وكلُّ مَن استحقَّ عُقوبةً فتركْتَه فقد عفوتَ عنه. وقد يكون أن يعفُوَ الإنسان عن الشَّيء بمعنى الترك، ولا يكون ذلك عن استحقاق

Artinya: “Setiap orang yang berhak mendapatkan hukuman lalu engkau membebaskanya berarti engkau telah memaafkannya. Terkadang seseorang memberi maaf atas sesuatu dengan membebaskan. Hal tersebut hanya bagi mereka yang pantas mendapatkannya.” (Maqaabisul Lughah,  4/56)

Pengertian Afwan Secara Istilah


Di dalam Al Qur'an, kata Afwan memiliki beberapa pengertian diantaranya


  1. Ampunan dan permaafan
  2. Pembebasan
  3. Jumlah yang banyak
  4. Kelebihan


Penjelasan lebih lengkap tentang empat pengertian dari afwan tersebut adalah

1. Ampunan dan permaafan (al maghfirah washshafhah)

Allah SWT berfirman

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Imran: 158)

Imam Ath Thabari menjelaskan kalimat,

ولقد عفا الله عنهم

Lalu Beliau berkata,

ولقد تجاوز الله عن عقوبة ذنوبهم فصفح لهم عنه

Artinya: “Sungguh Allah telah memaafkan hukuman dan dosa-dosa mereka kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka.” (Tafsir Ath Thabari)

2. Pembebasan (At Tark)

Allah SWT berfirman,

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

Artinya: “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu membebaskan atau dibebaskan oleh orang yang ikatan nikah ada ditangannya.” (QS. Al Baqarah 237)

Baca Juga: Ciri Ciri Imam Mahdi Berdasarkan Hadits

Adh Dhahak menjelaskan tentang ayat,

إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ

Lalu Beliau berkata,

المرأة تترك الذي لها

Artinya: “Yaitu seorang istri yang membebaskan apa yang menjadi haknya.”

Mujahid memberikan penjelasan yang serupa

تترك المرأة شطرها

Artinya: “Istri membebaskan separuh mahar yang menjadi haknya.” (Tafsir Ath Thabari Surat Al Baqarah: 237)

3. Jumlah yang banyak (Al Kastrah)

Allah SWT berfirman,

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا

Artinya: “Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak.”(QS. Al A’Raf: 95)

Baca Juga: Arti dari Jazakallahu Khairan Secara Lengkap

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan tentang ayat berikut,

حتى عفوا

Lalu Beliau berkata,

حتى كثروا وكثرت أموالهم

Artinya: “Sampai jumlah mereka dan harta mereka bertambah banyak.” (Tafsir Ath Thabari)

Hal serupa juga di sampaikan oleh pakar rafsir di kalangan tabi'in yaitu Mujahid rahimahullah.

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat diatas,

أي كثروا وكثرت أموالهم وأولادهم يقال عفا الشيء إذا كثر

Artinya: “Yaitu hingga jumlah mereka menjadi banyak serta harta dan anak-anak mereka. Disebut ‘afasy syaiu berarti jika jumlah bertambah banyak.” (Tafsir Ibni Katsiir)

4. Kelebihan (Al Fadhl)

Allah SWT berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” (QS. Al Baqarah: 219)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

ما يفضل عن أهلك

“Al Afwu adalah kelebihan dari kebutuhan keluargamu.”

Pendapat yang sama diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka’b, Al-Hasan, Qataah, Al-Qasim, Salim, Atha Al-Khurrasani, dan Ar-Rabi’ Ibnu Anas dan yang lainnya. Mereka mengatakan al afwu disini berarti kelebihan (sisa dari yang diperlukan). (Tafsir Ibni Katsiir)

Ternyata Afwan adalah Jawaban dari Syukran.. Kok Bisa?


Kalau mendengar kata syukran pasti yang terlintas di benak kita adalah sebuah kata yang diucapkan seseorang ketika merasa sudah mendapatkan bantuan atau pertolongan.

Betul, memang kata syukran itu jika di artikan ke dalam bahasa Indonesia maka artinya terima kasih. Namun agak sedikit berbeda jika di artikan dengan kaidah ilmu nahwu.

Syukran dalam kaidah ilmu nawhu berasal dari kalimat

أشكرك شكرا

Artinya: “Saya bersyukur kepadamu dengan sebenar-benarnya.”(Mulakhkhas Qawa’idil Lughatil’Arabiyyah hal.70)

Kata syukran yang biasa digunakan sehari-hari untuk berterima kasih hanya sebagian dari kalimat di atas.

Terus apa hubungannya dengan kata afwan?

Kalau Anda pernah ke timur tengah atau mungkin ingin ke timur tengah, jangan heran kalau di sana orang menjawab kata syukron dengan afwan.

Kenapa demikian?

Kata afwan yang dimaksud disini adalah

أطلب العفو منك لأنك تستحق مني أكثر من ذلك

Artinya: “Aku meminta maaf kepadamu karena engkau lebih berhak mendapatkan dariku perlakuan yang lebih banyak lagi.”

Ada Pendapat lain yang mengatakan,

أسألك عفواً أو أطلب منك عفواً عما بدر من نقص أو تقصير

Artinya: “Aku meminta maaf kepadamu atas kekurangan dan pengabaian.

Jadi gini,

Orang arab merasa perlu meminta maaf setelah berbuat baik kepada seseorang karena mereka merasa bahwa seharusnya masih bisa memberikan yang lebih baik dari itu, tetapi yang dilakukan hanya sebatas itu.

Contoh sederhananya seperti ini

Si A menolong si B, lalu si B berkata "Syukran" kepada si A karena telah menolongnya.

Lalu si A menjawab "Afwan." Afwan di sini maksudnya adalah meminta maaf karena pertolongan yang telah si A berikan masih banyak kekurangannya dan harusnya si B bisa mendapatkan pertolongan yang lebih baik lagi dari si A.

Sungguh indah sekali bukan?

Alhamdulillah pembahasan kali ini sudah selesai. Semoga apa yang telah di bahas kali ini bisa bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan dalam pembahasan kali ini. Sesungguhnya segala kebenaran hanya milik Allah dan segala kekurangan dan kesalahan datangnya murni dari diri saya pribadi.
Read More

Wednesday, August 8, 2018

Hukum dan Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Seperti yang kita ketahui dalam kaidah syar’i, melakukan hal yang wajib itu lebih utama di bandingkan melakukan hal yang sunnah. Seperti halnya shalat, shalat merupakan rukun islam kedua setelah syahadat yang merupakan tiang agama dan amalan yang paling di cintai Allah SWT. Dan akan lebih baik jika di lakukan dengan cara berjamaah di masjid bagi laki-laki namun sunnah untuk perempuan.
Keutamaan Shalat Berjamaah

Firman Allah SWT dalam Hadits Qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada perkara yang Aku wajibkan atasnya.” (HR. al-Bukhari, dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu)

Berjamaah berasal dari bahasa arab, yang artinya berkumpul. Shalat berjamaah di lakukan bersama-sama, minimal dua orang dan dilakukan secara tertib.

Baca Juga: Tata Cara Sujud Sahwi

Sesuai aturan Al Qur’an dan Hadits, yang satu sebagai imam dan yang lain sebagai makmum. Hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakad, yang artinya pekerjaan yang lebih utama dikerjakan Rasulullah saw, namun ada juga yang berpendapat hukum shalat berjamaah adalah fardhu kifayah, yang artinya apabila ada manusia yang shalat berjamaah yang lain tidak berdosa, tapi apabila tidak ada satupun manusia yang sholat berjamaah maka yang lainnya berdosa.

Dasar hukum shalat berjamaah dari Abdullah ibnu Umar  r.a. Rasulullah saw. bersabda: "shalat berjamaah  lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Pengertian Afwan Secara Bahasa dan Istilah

Adapun keutamaan shalat berjamaah yaitu :

1. Senatiasa di doakan malaikat, diangkat sedudukannya satu derajat di setiap langkahnya dan di hapuskan dosa baginya.
2. Jika shalat fardhu dikerjakan secara berjamaah akan mendapatkan pahala 27 derajat.
3. Terbebas dari godaan syetan yang terkutuk.
4. Di hari kiamat orang yang senantiasa melakukan shalat berjamaah akan di berikan naungan oleh Allah SWT dan memancarkan cahaya yang sempurna.
5. Belajar membiasakan diri untuk mengatur dan mendisiplinkan kehidupan.
Demikian besar keutamaan shalat berjama’ah sehingga Rasulullah bersabda:

لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِيْنَ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

Artinya : “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafiq selain dari shalat Subuh dan ‘Isya. Padahal seandainya mereka mengetahui pahalanya, tentu mereka akan mendatanginya meskipun sambil merangkak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) 


Baca Juga: Hal yang Membatalkan Wudhu

Demikian besarnya keutamaan shalat berjamaah sehingga merugilah bagi orang-orang yang meninggalkannya, karena di dalam shalat berjamaah terdapat begitu banyak pahala yang berkali-kali lipat.
Read More

Friday, August 3, 2018

5 Hal Yang Membatalkan Wudhu Lengkap Dengan Dalilnya

Wudhu adalah syarat sah nya sholat, maka apa bila wudhunya batal akan batal pula sholat yang dikerjakan sehingga di haruskan untuk melakukan wudhu kembali.

Hal-hal yang membatalkan wudhu ini disebut fiqih Nawaqidhul Wudhu atau yang artinya bab pembatal-pembatal wudhu.

Nawaqidhul wudhu ini ada yang sudah disepakati oleh ulama karena adanya dalil dari Al Quran dan Sunnah yang menjelaskan tentang hal tersebut dan ada juga yang masih di perselisihkan karena tidak adanya penjelasan dari dalil dan sunnah.

Yang Membatalkan Wudhu

Mari kita bahas kedua pendapat para ulama tersebut tentang hal-hal yang bisa membatalkan wudhu.

Penyebab Batal Wudhu yang Disepakati oleh Ulama


1. Buang air kecil atau besar

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ، إِذَا أَحْدَثَ، حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya: “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 135)

Dari hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa hadats merupakan hal yang membuat wudhu menjadi batal, baik itu hadats kecil atau pun hadats besar. Itu sama artinya hadats juga bisa membatalkan shalat, karena wudhu adalah salah satu syarat sah nya sholat.

Baca Juga: Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Selain itu, Allah juga telah berfirman tentang perkara yang mewajibkan seseorang untuk wudhu ketika hendak mengerjakan sholat

أَوْ جآءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغآئِطِ

Artinya: “Atau salah seorang dari kalian kembali dari buang air besar…” (Al-Maidah: 6)

Hal ini sama artinya jika seseorang buah air besar maka wudhunya akan batal.

Adapun hadits lain yang menjelaskan tentang ini adalah:

Ali berkata: “Aku seorang yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu untuk bertanya langsung kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena keberadaan putrinya (Fathimah radhiallahu ‘anha) yang menjadi istriku. Maka akupun meminta Miqdad ibnul Aswad radhiallahu ‘anhu untuk menanyakannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

Artinya: “Hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

2. Buang angin atau kentut

Buang angin adalah salah satu hal yang membatalkan wudhu, sehingga ketika seseorang buang angin saat sedang mengerjakan shalat, hendaknya ia membatalkan shalatnya itu lalu mengambil air wudhu dan mengungali shalatnya dari awal.

Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Al-Mazini radhiallahu ‘anhu berkata: “Diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang menyangka dirinya kentut ketika ia sedang mengerjakan shalat. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

Artinya: “Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar bunyi kentut (angin) tersebut atau mencium baunya.” (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ، إِذَا أَحْدَثَ، حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya: “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhari no. 135)

Saat mendengar perkataan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini, berkatalah seorang lelaki dari Hadhramaut: “Seperti apa hadats itu wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Angin yang keluar dari dubur (kentut) yang bunyi maupun yang tidak bunyi.”

Baca Juga: Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Hadits

Sementara perkataan Abu Hurairah ini dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, beliau berkata: “Abu Hurairah menjelaskan tentang hadats dengan perkara yang paling khusus (yaitu angin dari dubur) sebagai peringatan bahwa angin dari dubur ini adalah hadats yang paling ringan sementara di sana ada hadats yang lebih berat darinya. Dan juga karena angin ini terkadang banyak keluar di saat seseorang melaksanakan shalat, tidak seperti hadats yang lain.” (Fathul Bari, 1/296)

Hadits ini dijadikan dalil bahwa shalat seseorang batal dengan keluarnya hadats, sama saja baik keluarnya dengan keinginan ataupun terpaksa. (Fathul Bari, 1/269)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: Salma, maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau istrinya Abu Rafi‘ maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengadukan Abu Rafi’ yang telah memukulnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada Abu Rafi’: “Ada apa engkau dengan Salma, wahai Abu Rafi‘?” Abu Rafi‘ menjawab: “Ia menyakitiku, wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Dengan apa engkau menyakitinya wahai Salma?” Kata Salma: “Ya Rasulullah, aku tidak menyakitinya dengan sesuatupun, akan tetapi ia berhadats dalam keadaan ia sedang shalat, maka kukatakan padanya: ‘Wahai Abu Rafi‘, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kaum muslimin, apabila salah seorang dari mereka kentut, ia harus berwudhu.’ Abu Rafi‘ pun bangkit lalu memukulku.” Mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa seraya berkata: “Wahai Abu Rafi‘, sungguh Salma tidak menyuruhmu kecuali kepada kebaikan.” (HR. Ahmad 6/272, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/521)

Adapun orang yang terus menerus keluar hadats darinya seperti penderita penyakit beser (kencing terus menerus) (Al-Fatawa Al-Kubra, Ibnu Taimiyah t, 1/282) atau orang yang kentut terus menerus atau buang air besar terus menerus maka ia diberi udzur di mana thaharahnya tidaklah dianggap batal dengan keluarnya hadats tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/221)

3. Keluarnya darah akibat haid dan nifas

Darah haid dan nifas adalah salah satu hadats besar. Itu berarti keluarnya darah akibat haid dan nifas juga bisa membatalkan wudhu sesuai dengan hadits yang sudah disebutkan pada point satu di atas.

Dan apabila darah dari haid dan nifas ini masih keluar, maka diharamkan baginya untuk mengerjakan shalat, puasa dan berhubungan badan dengan suaminya sampai waktu haid dan nifas itu selesai.

Namun ada pengecualian atas hal ini bagi wanita yang darahnya terus keluar di luar waktu normal saat haid dan bukan disebabkan karena melahirkan, seperti halnya pada wanita yang sedang menderita istihadhad.

Wanita yang istihadhad hukumnya sama seperti wanita yang suci sehingga ia diperbolehkan untuk mengerjakan shalat meskipun darahnya terus keluar.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Bila si wanita yang menderita istihadhah itu ingin berwudhu untuk shalat hendaknya ia mencuci terlebih dahulu kemaluannya dari bekas darah dan menahan keluarnya darah dengan kain.” (Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyyah Lin Nisa, hal. 50)

4. Keluar air mani

Berbeda dengan buang air kecil dan besar yang merupakan hadats kecil, keluar air mani adalah hadats besar yang apa bila keluar maka tidak cukup hanya berwudhu, melainkan harus melakukan mandi junub terlebih dahulu.

Baca Juga: Tata Cara Mandi Junub yang Benar

5. Jima' (senggama)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

Artinya: “Apabila seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (menggauli istrinya), maka sungguh telah wajib baginya untuk mandi (janabah).” (HR. Al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Dalam riwayat Muslim ada tambahan:

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

Artinya: “Sekalipun ia tidak keluar mani.”

Dari hatits di atas dapat kita pahami bahwa jika sepasang suami istri melakukan hubungan badan, walaupun tidak keluar mani namun tetap harus mandi junub. Itu artinya jima' juga termasuk hal yang membatalkan wudhu.

Penyebab Batal Wudhu yang Diperselisihkan 


Di dalam masalah fiqh, baik itu fiqh ibadah maupun fiqh muamalah memang sering sekali terjadi perbedaan pendapat antara ulama. Hal ini disebabkan karena tersamarnya dalil yang jelas menurut pengetahuan mereka, baik dari Al Quran ataupun hadits.

Permasalahan ini sebenarnya bukan perkara baru karena sejak zaman dahulu pun para sahabat pernah berselisih dalam beberapa masalah fiqh.

Namun meski begitu antara ulama satu dengan yang lainnya tetap saling menghormati pendapat masing-masing. Dan hal itu pula lah yang harus kita ikuti agar terciptanya masyarakat yang damai dan saling menghormati pendapat orang lain.

1. Menyentuh lawan jenis

أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسآءَ

Artinya: “Atau kalian menyentuh wanita …” (An-Nisa: 43)

Ada dua pendapat tentang ayat di atas.

Pendapat pertama:

Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud dari menyentuk di atas adalah menyentuk dengan jima' (senggama) seperti pendapat yang disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ali, ‘Ubay bin Ka’b, Mujahid, Thawus, Al-Hasan, ‘Ubaid bin ‘Umair, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/227)

Itu artinya menyentuh lawan jenis dengan tangan atau anggota tubuh lainnya selain jima' maka tidak membatalkan wudhu.

Pendapat kedua:

Ulama yang lain berpendapat bahwa maksud dari menyentuh disini sifatnya luas atau umum bukan jima'. Diantara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar dari kalangan shahabat. Abu ‘Utsman An-Nahdi, Abu ‘Ubaidah bin Abdillah bin Mas’ud, ‘Amir Asy-Sya’bi, Tsabit ibnul Hajjaj, Ibrahim An-Nakha’i dan Zaid bin Aslam. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/227)

Itu artinya jika hanya sekedar menyentuh lawan jenis meskipun tidak sampai jima' maka tetap membatalkan wudhu.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Yang dimaukan (oleh ayat Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini) adalah jima’, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selainnya dari kalangan Arab. Dan diriwayatkan hal ini dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu dan selainnya. Inilah yang shahih tentang makna ayat ini. Sementara menyentuh wanita (bukan jima’) sama sekali tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menunjukkan bahwa hal itu membatalkan wudhu. Adalah kaum muslimin senantiasa bersentuhan dengan istri-istri mereka namun tidak ada seorang muslim pun yang menukilkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan kepada seseorang untuk berwudhu karena menyentuh para wanita (istri).”

Beliau juga berkata: “Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Al-Hasan bahwa menyentuh di sini dengan tangan dan ini merupakan pendapat sekelompok salaf. Adapun apabila menyentuh wanita tersebut dengan syahwat, tidaklah wajib berwudhu karenanya, namun apabila dia berwudhu, perkara tersebut baik dan disenangi (yang tujuannya) untuk memadamkan syahwat sebagaimana disenangi berwudhu dari marah untuk memadamkannya. Adapun menyentuh wanita tanpa syahwat maka aku sama sekali tidak mengetahui adanya pendapat dari salaf bahwa hal itu membatalkan wudhu.” (Majmu’ Al-Fatawa, 21/410)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Pendapat yang rajih adalah menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak, sama saja baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat kecuali bila keluar sesuatu darinya (madzi atau mani). Bila yang keluar mani maka wajib baginya mandi sementara kalau yang keluar madzi maka wajib baginya mencuci dzakar-nya dan berwudhu.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 4/201, 202)

Dalil yang menjelaskan bahwa bersentuhan dengan lawan jenis selain jima' tidak membatalkan wudhu adalah:

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كُنْتُ أَناَمُ بَيْنَ يَدَي رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلاَيَ فِي قِبْلَتِهِ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهَا

“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kedua kaki di arah kiblat beliau (ketika itu beliau sedang shalat, pen) maka bila beliau sujud, beliau menyentuhku (dengan ujung jarinya) hingga aku pun menekuk kedua kakiku. Bila beliau berdiri, aku kembali membentangkan kedua kakiku.” (HR. Al-Bukhari no. 382 dan Muslim no. 512)

Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengabarkan:

فَقَدْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَلْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُوْلُ: اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Suatu malam, aku pernah kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidurku. Maka aku pun meraba-raba mencari beliau hingga kedua tanganku menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan. Ketika itu beliau di tempat shalatnya (dalam keadaan sujud) dan sedang berdoa: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji terhadap diri-Mu.” (HR. Muslim no. 486)

2. Muntah

Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa muntah dapat membatalkan wudhu, hal ini di dasari dari dalil Ma'dan bin Abi Thalhah dari Abu Ad-Darda bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muntah, lalu beliau berbuka dan berwudhu. Kata Ma’dan: “Aku berjumpa dengan Tsauban di masjid Damaskus, maka aku sebutkan hal itu padanya, Tsauban pun berkata: “Abu Ad-Darda benar, akulah yang menuangkan air wudhu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. At-Tirmidzi no. 87)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini diperselisihkan (mukhtalaf) pada sanadnya. Kalaupun hadits ini shahih maka dibawa pemahamannya pada muntah yang sengaja.” Di tempat lain Al-Baihaqi berkata: “Isnad hadits ini mudhtharib (goncang), tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya.” (Nailul Authar, 1/268). Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah di dalam ta’liq beliau terhadap kitab Ar-Raudhatun Nadiyyah mengatakan: “Hadits-hadits yang diriwayatkan dalam masalah batalnya wudhu karena muntah adalah lemah semuanya, tidak dapat dijadikan hujjah.” (ta’liq beliau dinukil dari Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 1/174)

Sementara Abu Hanifah berpendapat bahwa muntah dapat membatalkan wudhu dengan syarat muntahnya itu berasal dari dalam perut, memenuhi mulut dan keluar sekaligus. (Nailul Authar, 1/268)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata: “Sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka dari kalangan tabi’in berpandangan untuk berwudhu disebabkan muntah dan mimisan. Demikian pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad dan Ishaq. Sementara sebagian ahlul ilmi yang lainnya berpendapat tidak ada keharusan berwudhu karena muntah dan mimisan, demikian pendapat Malik dan Asy-Syafi’i. (Sunan At-Tirmidzi, 1/59)

Sementara Asy-Syafi'i juga satu riwayat dari Al-Imam Ahmad menunjukkan bahwa keluar sesuatu dari tubuh selain qubul dan dubur tidaklah membatalkan wudhu, baik sedikit ataupun banyak, kecuali bila yang keluar dari tubuh itu kencing ataupun tahi. (Nailul Authar, 1/268, Asy-Syarhul Mumti’, 1/234)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Tidaklah batal wudhu dengan keluarnya sesuatu dari selain dua jalan (qubul dan dubur) seperti pendarahan, darah yang keluar karena berbekam, muntah dan mimisan, sama saja baik keluarnya banyak ataupun sedikit.3 Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Abi Aufa, Jabir, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibnul Musayyab, Salim bin Abdillah bin ‘Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Thawus, ‘Atha, Mak-hul, Rabi’ah, Malik, Abu Tsaur dan Dawud. Al-Baghawi berkata: “Ini merupakan pendapat mayoritas shahabat dan tabi`in.” (Al-Majmu’, 2/63)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’atur Rasail Al-Kubra, beliau berpendapat hukumnya di sini adalah sunnah sebagaimana dinukilkan oleh Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah. Demikian juga beliau menyatakan sunnahnya berwudhu setelah muntah. (Tamamul Minnah, hal. 111, 112)

Adapun hadits yang menjelaskan tentang muntah ini adalah:

مَنْ أَصَابَهَ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ أَوْ قَلَسٌ أَوْ مَذِيٌ فَلْيَنْصَرِفْ، فَلْيَتَوَضَّأْ…

“Siapa yang ditimpa (mengeluarkan) muntah, mimisan, qalas4 atau madzi (di dalam shalatnya) hendaklah ia berpaling dari shalatnya lalu berwudhu.” (HR. Ibnu Majah no. 1221)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Hadits ini dinyatakan cacat oleh sebagian Ahlul Hadits karena setiap periwayatan Isma’il ibnu ‘Iyasy dari orang-orang Hijaz semuanya dinilai lemah. Sementara dalam hadits ini Isma’il meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang dia itu orang Hijaz. Juga karena para perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Juraij –yang mereka itu adalah para tokoh penghapal– meriwayatkannya secara mursal (menyelisihi periwayatan Isma’il yang meriwayatkannya secara ittishal (bersambung) – pen.), sebagaimana hal ini dikatakan oleh penulis kitab Muntaqal Akhbar. Terlebih lagi riwayat yang mursal ini dinyatakan shahih oleh Adz-Dzuhli, Ad-Daruquthni dalam kitab Al-’Ilal, begitu pula Abu Hatim dan beliau mengatakan telah terjadi kesalahan dalam periwayatan Isma’il. Ibnu Ma’in berkata hadits ini dha’if. (Nailul Authar, 1/269)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa Al-Imam Ahmad dan selain beliau men-dha’if-kan hadits ini (Bulughul Maram hal. 36)

3. Kaluar darah dari anggota tubuh

Sebagian ulama berpendapat bahwa keluarnya darah dari anggota tubuh seseorang (selain kemaluan) tidak membatalkan wudhu, baik itu sedikit ataupun banyak. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu Abi Aufa, Abu Hurairah, Jabir bin Zaid, Ibnul Musayyab, Mak-hul, Rabi’ah, An-Nashir, Malik dan Asy-Syafi’i. (Nailul Authar, 1/269-270)

Sementara ulama yang lain berpendapat bahwa jika darah yang keluar banyak maka bisa membatalkan wudhu sementara jika darah yang keluar adalah sedikit maka tidak membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Abu Hanifah, Al-Imam Ahmad dan Ishaq. (Nailul Authar, 1/269)

Dalil yang membahas tentang tidak batalnya wudhu jika keluar darah adalah

seorang shahabat Al-Anshari yang tetap mengerjakan shalat walaupun darahnya terus mengalir karena luka akibat tikaman anak panah pada tubuhnya (HR. Al-Bukhari secara mu‘allaq dan secara maushul oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 193)

Apa bila keluarnya darah yang banyak dari anggota tubuh seseorang itu bisa membatalkan wudhu maka sahabat Nabi tersebut pasti dilarang untuk mengerjakan shalat dan pasti akan ditegur oleh Nabi atas shalat yang dikerjakannya tersebut, dan pasti Nabi akan menerangkan kepadanya atau kepada orang yang bersamanya. Sebab mengakhirkan penjelasan atau penerangan pada saat dibutuhkan penerangannya tidaklah diperbolehkan. Mereka para Sahabat sering terjun ke dalam medan pertempuran hingga badan dan pakaian mereka berlumuran darah. Namun tidak dinukilkan dari mereka bahwa mereka berwudhu karenanya dan tidak didengar dari mereka bahwa perkara ini membatalkan wudhu. (Sailul Jarar, 1/262, Tamamul Minnah, hal. 51-52)

Wallahu a‘lam bish-shawab

Alhamdulillah pembahasan tentang perkara yang dapat membatalkan wudhu telah selesai. Semoga apa yang telah di sampaikan di atas dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf apabila ada khilaf dan salah dalam pembahasan kali ini. Sesungguhnya segala kebenaran datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya murni dari dalam diri saya pribadi.
Read More

Wednesday, August 1, 2018

Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Hadits dan Bacaan Doa Sesudah Wudhu

Wudhu adalah aktivitas yang dilakukan oleh kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan, yang bertujuan untuk mensucikan anggota tubuh dari hadast kecil menggunakan air bersih atau air yang suci.

Wudhu juga merupakan salah satu rukun sholat yang apabila tidak laksanakan, maka sholat yang akan dilakukan tidak akan sah.

Tata Cara Wudhu

Hal ini sesuai dengan hadist Nabi SAW:

Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Artinya: “Tidak ada shalat kecuali dengan thoharoh. Tidak ada sedekah dari hasil pengkhianatan.” (HR. Muslim no. 224)

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini adalah nash. Mengenai wajibnya thoharoh untuk shalat, kaum muslimin telah bersepakat bahwa thoharoh merupakan syarat sah shalat.”

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya: “Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima -ketika masih berhadats- sampai dia berwudhu.“ (HR. Bukhari no. 6954 dan Muslim no. 225)

Selain menggunakan air, berwudhu juga bisa dilakukan dengan menggunakan debu yang disebut dengan tayamum.

Tayamum bisa dilakukan apabila lingkungan disekitar tempat kita tidak ada air sama sekali.

Perkara wudhu ini tidak bisa disepelekan, karena wudhu adalah salah satu syarat sah nya sholat.

Karena wudhu adalah salah satu kunci untuk mendapatkan sholat yang berkualitas. Agar sholat kita berkualiatas maka wudhu kita pun harus berkualitas.

Rukun Wudhu



  1. Niat
  2. Membasuh Muka
  3. Membasuh Kedua Tangan sampai ke siku
  4. Membasuh Kepala
  5. Membasuh Kedua kaki hingga mata kaki
  6. Tertib


Tata Cara Wudhu


Sebelum melakukan wudhu, hendaknya kita melihat terlebih dahulu kedalam diri kita apakah masih ada aksesoris yang menempel.

Lebih baik aksesoris tersebut dilepas sejenak saat berwudhu terutama yang terletak di bagian yang harus terkena wudhu seperti tangan.

Baca Juga: Bacaan Doa dan Tata Cara Sujud Sahwi

Tujuannya agar aksesoris tersebut tidak menghambat air wudhu untuk mengenai pori-pori kulit, karena jika aksesoris tersebut menghalangi air mengenai pori-pori maka wudhu nya tidak sah.

1. Niat Wudhu

Maksud dari niat di sini adalah al qosd (keinginan) dan al irodah (kehendak). Yang namanya keinginan atau kehendak pasti dilakukan di dalam hati. Sehingga letak niat ini adanya di dalam hati.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah– mengatakan, “Letak niat adalah di hati bukan di lisan. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin dalam segala macam ibadah termasuk shalat, thoharoh, zakat, haji, puasa, memerdekakan budak, jihad dan lainnya.”

Ibnul Qayim –rahimahullah– mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –di awal wudhu– tidak pernah mengucapkan “nawaitu rof’al hadatsi (aku berniat untuk menghilangkan hadats …)”. Beliau pun tidak menganjurkannya. Begitu pula tidak ada seorang sahabat pun yang mengajarkannya. Tidak pula terdapat satu riwayat –baik dengan sanad yang shahih maupun dho’if (lemah)- yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan bacaan tadi.”

2. Cuci kedua telapak tangan hingga bersih

Cuci kedua telapak tangan dimulai dari yang sebelah kanan sampai dengan ke sela-sela jari sebanyak 3 kali.

3. Berkumur-kumur sekaligus memasukkan air kedalam hidung menggunakan tangan kanan

Berkumur-kumur dilakukan dengan cara mengambil air menggunakan tangan kanan. Setengah dari air tersebut digunakan untuk berkumur dan setengahnya lagi di hisap menggunakan hidung (istinsyaq) secara bersamaan.

Kegiatan ini wajibnya dilakukan satu kali dan sunnahnya dilakukan 3 kali. Lebih dari itu, dianggap makruh.

Setelah itu, buang ari kumur-kumur dan buang juga air dari hidung menggunakan tangan kiri.

4. Membasuh Seluruh wajah

Banyak kesalahan yang sering di alami ketika wudhu tidak membasuh seluruh wajah.

Untuk itu kita harus tahu dulu mana saja batasan wajah.

Baca Juga: Niat dan Cara Memandikan Jenazah

Batasan wajah di awali dari bagian atas yang di tumbuhi oleh rambut, bagian bawah sampai bagian jakun, bagian kanan dan kiri adalah sampai anak telinga.

Maka ketika berwudhu, seluruh bagian wajah ini harus di basuh. Dilakukan wajibnya 1 kali dan sunnahnya sebanyak 3 kali. Jika lebih dari ini, maka hukumnya makruh

5. Membasuh bagian tangan sampai ke siku

Allah SWT memberikan batasan dari tangan ini dari ujung jari sampai dengan siku.

Seluruh bagian tangan ini harus di basuh dan terkena air. Termasuk bagian jari-jemari harus terkana air keseluruhan.

Jangan merapatkan tangan ketika membasuh tangan, hal ini di khawatirkan akan menghambat aliran air untuk masuk ke sela-sela jari-jemari.

Kegiatan ini dilakukan dari tangan kana lalu dilanjutkan dengan tangan kiri, wajibnya satu kali dan sunnahnya 3 kali.

6. Membasuh Kepala dan Telinga

Ambil air sedikit untuk membasahi tangan, lalu usapkan ke bagian kepala dari depan sampai belakang dan dari belakang ke depan.

Dengan sisa air yang ada di tangan setelah mengusap kelapa, Langsung dilanjutkan dengan membasuh telinga dari bagian belakang ke bagian depan

Baca Juga: Hal yang Dapat Membatalkan Wudhu

Kegiatan ini dilakukan satu kali

Ibnul Qayyim menjelaskan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membasuh kepalanya seluruh dan terkadang beliau membasuh ke depan kemudian ke belakang. Sehingga dari sini sebagian orang mengatakan bahwa membasuh kepala itu dua kali. Akan tetapi yang tepat adalah membasuh kepala cukup sekali (tanpa diulang). Untuk anggota wudhu lain biasa diulang. Namun untuk kepala, cukup dibasuh sekali. Inilah pendapat yang lebih tegas dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berbeda dengan cara ini.

Perlu diperhatikan bahwa membasuh kepala ini dilakukan seluruhnya, bukan hanya bagian ubun-ubun saja

Allah Ta’ala berfirman,

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

Artinya: “Dan basuhlah kepala kalian.” (QS. Al Maidah: 6)

Adapun hadits yang menjelaskan tentang hal ini adalah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِى تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ فَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِهِ وَأَدْبَرَ ، وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ

Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu kami mengeluarkan untuknya air dalam bejana dari kuningan, kemudian akhirnya beliau berwudhu. Beliau mengusap wajahnya tiga kali, mengusap tangannya dua kali dan membasuh kepalanya, dia menarik ke depan kemudian ditarik ke belakang, kemudian terakhir beliau mengusap kedua kakinya." (HR. Bukhari no. 197)

7. Membasuh Kaki

Batasan kaki adalah dari ujung jari sampai dengan mata kaki, dan pada bigian ini tidak boleh ada yang terlewatkan dan seluruhnya harus terkena air.

Yang perlu diperhatikan dari bagian ini adalah jari-jemari kaki.

Rasulullah ketika membasuh kaki selalu menggosok bagian sela-sela jari menggunakan jari tangannya.

Pada bagian ini, sunnahnya dilakukan tiga kali, mulai dari yang kanan 3 kali dan yang kiri 3 kali.

Bacaan Doa Setelah Selesai Wudhu


Rasulullah SAW setelah sesudah melakukan wudhu lalu menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil membaca doa

اَشْهَدُ اَنْ لآّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Latin: ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUUWA ROSUULUHUU, ALLOOHUMMAJ'ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ'ALNII MINAL MUTATHOHHIRIINA

Artinya: Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)

Jika Anda masih bingung atau belum paham dengan pembahasan di atas, Anda bisa melihat video tentang cara berwudhu berikut ini


Alhamdulillah pembahasan tentang cara wudhu dan doa setelah wudhu telah selesai. Semoga apa yang ada di dalam pembahasan kali ini dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf apa bila ada khilaf dan salah dalam pembahasan kali ini. Sesungguhnya segala kebenaran yang ada di artikel ini datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya murni dari dalam diri saya pribadi.
Read More

Tuesday, July 31, 2018

Bacaan Doa dan Tata Cara Sujud Sahwi Lengkap Dengan Dalilnya

Secara bahasa, sahwi artinya adalah lupa atau lalai. Secara istilah sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan di akhir waktu atau setelah selesai sholat yang bertujuan untuk menutupi kecatatan dalam sholat karena beberapa hal seperti meninggalkan sesuatu yang sudah diperintahkan atau sesuatu yang telah dilarang tanpa sengaja.

Bacaan Doa dan Tata Cara Sujud Sahwi

Para ulama bersepakat mengenai syariat sujud sahwi ini, adapun landasan dalil tentang sujud sahwi adalah sebagai berikut

إِذَا نُودِىَ بِالأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ الأَذَانَ فَإِذَا قُضِىَ الأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِىَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا. لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِى كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

Artinya: “Apabila adzan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Apabila adzan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqomah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya. Dia berkata, “Ingatlah demikian, ingatlah demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari no. 1231 dan Muslim no. 389)

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim no. 571)

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ إِمَّا الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا وَشِمَالًا فَقَالَ مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالُوا صَدَقَ لَمْ تُصَلِّ إِلَّا رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat pada salah satu dari dua shalat petang, mungkin shalat Zhuhur atau Ashar. Namun pada raka’at kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Shalat telah diqoshor (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau shalat hanya dua rakaat.” Lalu beliau shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِى ثَلاَثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِى يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ. وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ « أَصَدَقَ هَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘Ashar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Setelah itu beliau memasuki rumahnya. Lalu seorang laki-laki yang bernama al-Khirbaq (yang tangannya panjang) menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya, “Wahai Rasulullah!” Lalu ia menyebutkan sesuatu yang dikerjakan oleh beliau tadi. Akhirnya, beliau keluar dalam keadaan marah sambil menyeret rida’nya (pakaian bagian atas) hingga berhenti pada orang-orang seraya bertanya, “Apakah benar yang dikatakan orang ini?“ Mereka menjawab, “Ya benar”. Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim n o. 574)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَمْسًا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَزِيدَ فِى الصَّلاَةِ قَالَ « وَمَا ذَاكَ ». قَالُوا صَلَّيْتَ خَمْسًا. قَالَ « إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَذْكُرُ كَمَا تَذْكُرُونَ وَأَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ ». ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَىِ السَّهْوِ.

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lima raka’at. Kami pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menambah dalam shalat?” Lalu beliau pun mengatakan, “Memang ada apa tadi?” Para sahabat pun menjawab, “Engkau telah mengerjakan shalat lima raka’at.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.” Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim no. 572)

Hukum Melakukan Sujud Sahwi


Ada dua pendapat dari para ulama mengenai hukum sujud sahwi, yang pertama adalah wajib dan yang kedua adalah sunnah.

Baca Juga: Bacaan Doa Qunut Subuh, Nazilah dan Witir Lengkap Arab dan Latin

Namun jika dilihat kembali, pendapat yang lebih menentramkan hati adalah pendapat yang memberi hukum wajib. Alasannya karena hadist Nabi yang menjelaskan tentang sujud sahwi lebih banyak terdapat kata perintah di dalamnya, dimana kata perintah ini hukum aslinya adalah wajib.

Ditambah lagi, Nabi selalu melakukan sujud sahwi ketika ada sebabnya, dan tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa Nabi pernah meninggalkannya.

Sebab Harus Dilakukannya Sujud Sahwi


1. Meninggalkan rukun shalat (seperti lupa saat ruku dan sujud tanpa sengaja)
2. Meninggalkan wajib sholat (seperti lupa tasyahud awwal)
3. Adanya penambahan (seperti khilaf menambah satu rakaat atau lebih dalam sholat)
4. Adanya keraguan (misalnya ragu telah sholat tiga atau empat rakaat)

Kapan Sujud Sahwi Dilakukan?


Jika dilihat dari hadist-hadist yang menjelaskan tentang jusud sahwi, ada yang menyebutkan di sebelum salam dan ada juga yang menyebutkan setelah salam.

Hal ini menunjukan bahwa boleh melakukan sujud sahwi sebelum ataupun sesudah salam tergantung dari sebabnya.

Penjelasan lebih jelasnya bisa di lihat di bawah ini.

1. Jika terjadi kekurangan pada sholat seperti lupa tasyahud awwal maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam untuk menyempurnakan sholatnya tersebut, karena jika sudah salam maka sholatnya telah selesai.

2. Jika terdapat kelebihan saat sholat seperti menambah rakaat, maka sujud sahwi dilakukan sesudah salam, tujuannya untuk menghinakan setan.

3. Jika dalam sholat masih memiliki kekurangan rakaat namun orang tersebut sudah terlanjur salam, maka sujud sahwi dilakukan sesudah salam, tujuannya untuk menghinakan setan.

4. Jika saat sholat dalam keadaan ragu, lalu orang tersebut mengingatnya dan memilih yang yakin, maka sujud sahwi dilakukan sesudah salam, tujuannya untuk menghinakan setan.

5. Jika saat sholat dalam keadaan ragu antara rakaat ke tiga tau ke empat, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam karena sholatnya perlu ditambal sebab ada yang belum ia yakini.

Tata Cara Sujud Sahwi


Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa sujud sahwi dilakukan baik sebelum atau sesudah salam tergantung dari kondisi yang dialami. Sujud sahwi dilakukan dengan cara dua kali sujud, ketika hendak sujud disyariatkan mengucap takbir "Allahu Akbar", begitu pula saat hendak bangkit dari sujudnya.

Hadist yang menjelaskan tentang sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam:

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Artinya: “Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Hadist yang menjelaskan tentang sujud sahwi yang dilakukan sesudah salam:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

Artinya: “Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Hadist yang menjelaskan tentang sujud sahwi yang di tutup dengan salam:

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

Artinya: “Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)

Doa Saat Sujud Sahwi


Doa yang dianjurkan oleh sebagian para ulama saat sujud sahwi adalah:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw”

Artinya: "Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa

Namun doa ini hanya saran dari sebagian ulama saja, memang tidak didukung oleh dalil.

Adapun bacaan saat sujud sahwi adalah sama seperti bacaan pada saat sujud ketika sholat yang lain.

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Subhaana robbiyal a’laa”

Artinya: "Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi"

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.”

Artinya: "Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku"

Apa yang Harus Dilakukan Jika Lupa Sujud Sahwi?


Kasus pertama: Jika lupa meninggalkan sujud sahwi dalam waktu yang lama namun wudhunya belum batal, maka sholatnya masih dianggap sah dan orang tersebut dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi kembali ketika ia ingat meskipun waktunya sudah lama.

Ini adalah pendapat dari Imam Malik, pendapat terdahulu dari Imam Asy Syafi'i, Yahya bin Sa;id Al Anshori, Al Laits, Al Auza'i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Artinya: “Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarohnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684)

Kasus kedua: Jika lupa mengerjakan sujud sahwi dan wudhunya telah batal, para ulama bersepakat bahwa kasus seperti ini sholatnya batal dan harus mengulangi lagi. Kecuali jika sujud sahwi yang di tinggalkan tersebut adalah sujud sahwi yang dilakukan sesudah salam karena kelebihan rakaat, maka orang tersebut boleh mengerjakan sujud sahwi dengan berwudhu terlebih dahulu.

Alhamdulillah penjelasan tentang sujud sahwi telah selesai. Semoga apa yang sudah di sampaikan di atas dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf apabila ada kekurangan, khilaf dan salah. Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya murni dari diri saya pribadi.
Read More

Monday, July 30, 2018

Bacaan Doa Qunut Subuh Nazilah dan Witir Lengkap Arab dan Latin

Doa qunut adalah doa yang sering diamalkan atau dibacakan oleh kaum muslim pada saat mengerjakan sholat subuh 2 rakaat yang di bacakan oleh Imam saat setelah berdiri i'tidal atau setelah ruku di rakaat kedua.

Secara bahasa, qunut artinya tunduk dan merendahkan diri kepada Allah SWT.

Hukum membaca doa qunut menurut ulama dari kalangan Imam Syafi'i adalah sunnah muakkadah.

Pendapat ini didasari dari hadist Nabi SAW yang artinya:

“Dari Sahabat Anas bin Malik r.a, sesungguhnya Nabi SAW membaca qunut selama satu bulan penuh untuk mendoakan orang-orang, kemudian beliau meninggalkannya. Adapun di waktu subuh beliau tidak pernah meninggalkan qunut sampai beliau meninggal dunia.”(HR. Imam Baihaqi dan Daruqutni)

Selain itu, ada juga kalangan ulama yang berpendapat bahwa membaca qunut saat sholat subuh hukumnya sunnah bahkan ada yang mengatakan mubah.

doa qunut

Setiap ulama memiliki pendapat masing-masing yang dilandasi dari dalil dan hadist, untuk itu kita harus saling menghormati dan tidak boleh menjatuhkan apa lagi menghina.

Manfaat Membaca Doa Qunut


Segala sesuatu yang pernah Nabi lakukan pasti memiliki manfaat yang terkandung di dalamnya, begitu juga dengan doa qunut, terutama qunut nazilah. Daintara manfaat membaca doa qunut adalah

1. Meminta perlindungan kepada Allah agar terhindari dari wabah penyakit
2. Meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari bencana alam
3. Meminta perlindungan kepada Allah dari ancaman musuh

Macam Macam Doa Qunut


Ada beberapa macam doa qunut yang dibedakan dalam pelaksanaannya. Doa qunut yang sering dilakukan adalah pada saat sholat subuh. Beberapa doa qunut tersebut adalah

1. Qunut Nazilah


Qunut Nazilah adalah qunut yang dikerjakan ketika disuatu negeri sedang terjadi peperangan atau bencana. Qunut Nazilah biasa dikerjakan pada waktu sholat fardu yang 5 waktu baik itu subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya.

Tujuan dari dilaksanakannya qunut nazilah adalah untuk meminta pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari bencana, peperangan dan penindasan.

Baca Juga: Doa, Niat dan Tata Cara Mandi Wajib

Bacaan dari doa qunut nazila juga berbeda dari doa qunut subuh. Umumnya bacaan doa qunut nazila itu panjang dan disesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi.

Adapun contoh bacaan doa qunut nazillah adalah sebagai berikut

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَائَكَ اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

Latin: ALLAHUMMAGFIRLANAA WA LILMU'MINIINA WAL MU'MINAATI WAL MUSLIMIINA WALMUSLIMAATI WA ALLIF BAYNA QULUUBIHIM WA ASHLIH DZAATA BAYNIHIM WANSHURHUM 'ALAA 'ADUWWIKA WA'ADZUWWIHIM

ALLAHUMMAL'AN KAFARATA AHL ALKITAABI ALLADZIINA YASHUDDUUNA 'AN SABIILIKA WAYUKADZIBUUNA RUSULAKA WAYUQAATILUUNA AWLIYAAIKA

ALLAHUMMA KHALLIF BAYNA KALIMIHIM WAZALZIL IQDAAMAHUM WAINZIL BIHIM BA'SAKA LLADZII LAA TARUDDUHUU 'ANIL QAWMIL MUJRIMIINA.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah kami, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat. satukanlah hati mereka. Perbaikilah ikatan antara mereka dan menangkanlah mereka atas musuh engkau  dan musuh mereka.

Ya Allah, Laknatilah orang-orang kafir ahli kitab yang selalu menghalangi jalan engkau, mendustakan rasul rasul engkau, dan memerangi wali-wali-Mu.

Ya Allah, Cerai beraikanlah persatuan dan kesatuan mereka. Goyahkanlah langkah-langkah mereka, dan turunkanlah kepada mereka siksa Engkau yang tidak akan Engkau jauhkan dari kaum yang berbuat buruk”.

2. Qunut Subuh


Qunut subuh adalah qunut yang setiap hari saat sholat subuh kita kerjakan. Adapun bacaan qunut subuh adalah sebagai berikut:

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ
وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ
وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ
 وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
وَقِنِيْ شَرَّمَا قََضَيْتَ
 فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ
 وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ
 وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ
اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
 وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin: ALLAHUMMAH DINII (-NAA) FII MAN HADAIT.
WA'AAFINII (-NAA) FII MAN 'AAFAIIT.
WA TAWALANII (-NAA) FII MAN TAWALLAIIT.
WA BAARIK LII (-LANA) FIIMAA A'THAIIT
WA QINII (-NAA) SYARRAMAA QADTHAIIT.
FA INNAKA TAQDTHII WALAA YUQTHDAA 'ALAIIK.
WA INNAHU LA YADZILLU MAN WALAIIT.
WALAA YA'IZZU MAN 'AADAIIT.
TABAA RAKTA RABBANAA WATA 'AALAIT
FA LAKAL-HAMDU 'ALAA MAA QADHAIIT.
ASTAGFIRUKA WA ATUUBU ILAIIK.
WA SHALLALLAAHU 'ALAA SAYYIDINA MUHAMMADININ-NABIYYIL UMMIYYI WA'ALAA AALIHII WA SHAHBIHI WA SALLAM.

Catatan: Doa di atas adala doa untuk sholat subuh sendiri, adapun untuk menjadi imam, kata NII diganti dengan NAA seperti yang sudah di tandai dalam kurung pada bacaan latin.

Baca Juga: Ini Dia Doa Untuk Orang yang Sedang Sakit Sesuai Sunnah

Artinya: "Ya Allah, tunjukkanlah aku sebagaimana mereka yang sudah Engkau berikan petunjuk.
Dan kasihkanlah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau sudah kasih kesehatan.
Dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau pelihara.
Dan berilah keberkahan bagiku pada segala apa yang Engkau sudah karuniakan.
Dan lindungi aku dari segala bahaya kejahatan yang Engkau sudah pastikan.
Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum.
Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin.
Dan tidak mulia orang yang mana Engkau memusuhinya.
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau
Maha bagi Engkau seluruh pujian di atas yang Engkau hukumkan
Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau
(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya."

Catatan: Terjemahan di atas adalah terjemahan untuk doa qunun seorang diri, adapun jika menjadi imam, katak "AKU" diganti menjadi "KAMI"

3. Qunut Witir


Qunut witir biasanya dikerjakan pada bulan Ramadhan, tepatnya 15 malam terakhir bulan Ramadhan pada saat sholat tarawih.

Untuk bacaannya, bisa menggunakan bacaan qunut subuh.

Cara Melakukan Doa Qunut Dalam Sholat


Doa qunut dalam sholat sendirian

Doa qunut dilakukan di rakaat kedua setelah rukuk dan berdiri kembali (i'tidal). Setelah i'tidal jangan langsung sujud tetapi langsung membaca doa qunut sambil mengangkat tangan seperti berdoa pada umumnya.

Suara tidak terlalu kencang, yang penting masih terdengar oleh telinga diri sendiri.

Setelah selesai membaca doa qunut, baru dilanjutkan dengan sujud.

Doa qunut dalam sholat berjamaah

Hampir sama seperti sholat sendiri, namun ketika Anda menjadi Imam, maka bacaan doa qunutnya dikeraskan.

Namun apabila Anda menjadi makmum, maka cukup berkata Aamiin saja sampai Imam membaca WA QINNAA SYARRAMAA QADTHAIIT. Lalu sisanya Anda lanjutkan di dalam hati.

Setelah membaca doa qunut, menurut Imam Ahmad bin Hambal di sunnahkan untuk mengusap wajah, namun menurut imam lain, tidak perlu.

Apa yang harus dilakukan ketika lupa membaca doa qunut saat sholat subuh? Disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi, silahkan baca tentang bacaa, doa dan tata cara sujud sahwi

Alhamdulillah pembahasan kali ini tentang doa qunut telah selesai. Semoga apa yang telah di sampaikan di atas dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf jika dalam pembahasan kali ini masih banyak kekurangan, khilaf dan salah. Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya murni dari dalam diri saya pribadi.
Read More

Niat dan Cara Memandikan Jenazah Laki-Laki dan Perempuan Secara Lengkap

Salah satu diantara banyaknya kewajiban seorang muslim adalah mengurus jenazah sesama muslim lain yang sudah meninggal dunia.

Apabila seorang muslim yang mengetahui ada saudara seimannya yang meninggal dan tidak ada yang mengurusi jenazahnya, maka orang yang mengetahui hal tersebut akan mendapatkan dosa.

Mengurusi jenazah bukan hanya sekedar memandikan, tetapi juga mulai mengkafani, mensholati dan menguburkannya dengan benar sesuai syariat agama Islam.

Mengurus jenazah memang tidak bisa sembarangan karena terdapat aturan yang wajib dan sunnah untuk di ikuti. Ditambah lagi, mengurus jenazah bukanlah hal yang dapat dilakukan secara rutin setiap saat karena tidak setiap saat juga ada orang di sekitar kita yang meninggal dunia.

Mungkin inilah yang menyebabkan banyak orang yang tidak begitu paham tentang cara mengurusi jenazah. Namun tetap itu bukanlah alasan untuk mengabaikan jenazah orang yang sudah meninggal.

Niat dan Cara Memandikan Jenazah

Untuk itu, Anda bisa membaca artikel ini dan menyimpannya apabila sewaktu-waktu ada orang di sekitar Anda yang meninggal dunia. Sehingga Anda akan dengan mudah membantunya karena sudah pernah mempelajarinya.

Namun sebelum itu, kita harus tahu dulu beberapa hal yang harus di perhatikan sebelum memandikan jenazah, diantaranya adalah orang yang memandikannya, karena tidak semua orang memiliki keutaman untuk memandikan jenazah.

Lalu siapa saja orang yang memiliki keutamaan untuk memandikan jenazah?

Untuk Mayyit Laki-laki

Beberapa orang yang memiliki keutamaan untuk memandikan mayyit laki-laki dewasa diantaranya adalah bapaknya, kakeknya, keluarga terdekatnya, muhrimnya, istrinya dan orang yang telah diwasiatkannya.

Untuk Mayyit Perempuan

Beberapa orang yang memiliki keutamaan untuk memandikan mayyit perempuan dewasa diantaranya adalah ibunya, neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita dan suaminya.

Untuk Mayyit Anak Laki-Laki dan Perempuan

Untuk mayyit anak perempuan di perbolehkan yang memandikannya adalah laki-laki dewasa, dan untuk mayyit anak laki-laki di perbolehkan yang memandikannya adalah perempuan dewasa.

Baca Juga: Cara Mengkafani Jenazah Secara Lengkap

Lantas bagaimana jika ada seorang perempuan yang meninggal dunia namun orang yang masih hidup hanya dari kaum laki-laki (tidak ada wanitanya) dan tidak memiliki suami?

Atau sebaliknya, seorang laki-laki yang meninggal dunia namun orang yang ada di sekitarnya yang masih hidup hanya ada wanita (tidak memiliki istri)?

Jawabannya adalah mayyit tersebut tidak perlu dimandikan namun hanya cukup di tayamumkan saya oleh seseorang diantara mereka menggunakan penutup tangan.

Hal ini berdasarkan dari hadist Nabi SAW yang artinya:

"Jika seorang perempuan meninggal di tempat laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya maka kedua mayyit itu ditayamumkan, lalu dikuburkan, karena kedudukannya sama seperti tidak mendapat air" (H.R Abu Daud dan Baihaqi)

Selain itu, ada pula syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang yang hendak memandikan jenazah yaitu

Syarat Untuk Orang yang Hendak Memandikan Jenazah



  1. Muslim
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Jujur
  5. Sholeh
  6. Terpercaya
  7. Amanah
  8. Berniat memandikan jenazah
  9. Mengetahui hukum memandikan jenazah dan bisa memandikannya sesuai sunnah yang telah di ajarkan
  10. Bisa menutup aib si mayyit


Tidak semua mayyit wajib untuk dimandikan, ada beberapa hal yang bisa membuat si mayyit tidak perlu di mandikan dan ada juga beberapa hal yang mewajibkan di mayyit untuk di mandikan. Adapun kriteria mayyit yang wajib di mandikan adalah

1. Mayyit seorang muslim (bukan kafir)
2. Bukan bayi yang mengalami keguguran
3. Bukan bayi yang saat lahir sudah meninggal
4. Bukan mayyit yang mati syahid
5. Ada beberapa bagian tubuh mayyit yang bisa dimandikan

Setelah kita mengetahui syarat untuk memandikan jenazah dan jenazah seperti apa yang bisa di mandikan, maka sekarang kita masuk ke materi tentang cara memandikan jenazah.

Tata Cara Memandikan Jenazah Secara Lengkap


Persiapan yang perlu disediakan:

1. Tempat tertutup untuk memandikan jenazah
2. Air bersih secukupnya
3. Sabun mandi
4. Kapas secukupnya
5. Sarung tangan
6. Kapur barus

Praktik Cara Memandikan Jenazah

1. Letakan mayyit di tempat untuk memandikannya
2. Kenakan sarung tangan yang telah di sediakan
3. Bagi air bersih menjadi tiga bagian, pertama untuk dicampurkan dengan sabun, kedua untuk dicampurkan dengan kapur barus dan yang terakhir tetap air bersih
4. Istinjakkan mayyit terlebih dahulu
5. Bersihkan anggota tubuh mayyit mulai dari giginya, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiak, celah jari tangan dan jari kaki serta rambunya
6. Keluarkan kotoran yang ada di dalam perut mayyit dengan cara menekan perutnya secara perlahan sambil menangkat bagian kepala mayyit sedikit saja
7. Setelah itu siram tubuh si mayyit menggunakan air sabun hingga bersih
8. Bilas menggunakan air bersih sambil mengucapkan niat memandikan jenazah

Niat Memandikan Jenazah Laki Laki

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذَاالْمَيِّتِ ِللهِ تَعَالَى

Latin: NAWAITUL GHUSLA ADAA'AN 'AN HAA-DZAL MAYYITI LILLAAHI TA'AALA

Artinya: Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (laki-laki) ini karena Allah Ta'ala

Niat Memandikan Jenazah Perempuan

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذِهِ الْمَيِّتَةِ ِللهِ تَعَالَى

Latin: NAWAITUL GHUSLA ADAA'AN 'AN HAADZIHIL MAYYITATI LILLAAHI TA'AALA

Artinya: Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (perempuan) ini karena Allah Ta'ala

9. Selanjutnya bersihkan kembali mayyit menggunakan air bersih dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki dimulai dari yang sebelah kanan dan dilanjut ke sebelah kiri
10. Lalu miringkan mayyit ke sebelah kiri dan bersihkan bagian belakang tubuh mayyit sebelah kanan
11. Miringkan mayyit ke sebelah kanan dan bersihkan bagian belakang tubuh mayyit sebelah kiri
12. Siram kembali menggunakan air bersih
13. Selanjutnya siram jenazah menggunakan air campuran kapur barus

Baca Juga: Rukun, Niat, Cara dan Bacaan Sholat Jenazah 

Jika sudah selesai, maka dilanjutkan dengan mewudhukan jenazah.

Cara mewudhukan jenazah yaitu dengan mengucurkan air ke atas jenazah lalu dilanjutkan seperti berwudhu pada umumnya.

Baca Juga: Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Hadits

Sebelum itu, jangan lupa untuk mengucapkan niat wudhu. Adapun bacaan niat mewudhukan jenazah adalah

Niat mewudhukan jenazah laki-laki

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذَاالْمَيِّتِ للهِ تَعَالَى

Artinya: “aku berniat mewudukkan jenazah (lelaki) ini kerana Allah s.w.t”

Niat mewudhukan jenazah perempuan
                                                                                        نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ للهِ تَعَالَى

Artinya: "aku berniat mewudukkan jenazah (perempuan) ini kerana Allah s.w.t”

Setelah proses memandikan dan mewudhukan jenazah telah dilakukan, maka sekarang adalah waktunya untuk mengeringkan jenazah dengan cara di lap menggunakan lap atau handuk ke seluruh badan si mayyit.

Proses memandikan jenazah telah selesai di lakukan, dan pembahasan kali ini juga sudah selesai.

Jika Anda masih merasaa bingung dengan penjelasan di atas, Anda juga bisa langsung menyimak video berikut ini untuk lebih memahami cara memandika jenazah seara lengkap


Semoga apa yang sudah di sampaikan di atas dapat bermanfaat khususnya untuk diri saya pribadi dan umumnya untuk Anda.

Mohon maaf jika terdapat kekurangan, khilaf dan salah yang ada di pembahasan di atas. Sesungguhnya segala kebenaran datangnya dari Allah dan segala khilaf dan salah datangnya murni dari dalam diri saya pribadi.
Read More